Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

Makna dan hikmah Puasa Ramadhan menurut pandangan Islam

Assalamualaikum Sobat muslim dan non muslim semua maupun sobat blogger se-indonesia. Kali ini aa-irwan ingin berbagi informasi mengenai puasa ramdhan 1437H yang sebentar lagi kita akan menyambutnya dengan gembira dan penuh harap akan rahmat dan keberkahan bulan ramadhan bagi umat islam semua.


Arti Puasa


Puasa dalam agama Islam atau Shaum (dalam Bahasa Arab صوم) secara bahasa artinya : menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.



Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Terdapat puasa wajib dan puasa sunnah, namun tata caranya tetap sama.

Perintah dalam Al-Quran
Perintah berpuasa dari Allah terdapat dalam Al-Quran di surat Al-Baqarah ayat 183.

“ َيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Puasa



Hikmah Puasa

Ibadah shaum Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mu’min adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam QS. Al- Baqarah/2: 183. Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran/3: 146.

Di antara hikmah dan faedah puasa selain untuk menjadi orang yang bertakwa adalah sebagai berikut :
  1. Untuk pendidikan/latihan rohani
  2. Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri
  3. Mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti
  4. Mendidik jiwa untuk dapat memegang amanat dengan sebik-baiknya
  5. Mendidik kesabaran dan ketabahan
  6. Untuk perbaikan pergaulan
  7. Orang yang berpuasa akan merasakan segala kesusahan fakir miskin yang banyak menderita kelaparan dan kekurangan. Dengan demikian akan timbul rasa suka menolong kepada orang-orang yang menderita.
  8. Untuk kesehatan rohani dan lahiriah
  9. Sebagai rasa syukur atas segala nikmat Allah SWT

Berikut ada kalender islam 1437H yang dipercaya dari mbah google tapi ada yg lebih akurat bisa share disini, semoga bermanfaat.

kalender islam 1437H


Semoga artikel islam yang singkat ini bisa bermanfaat bagi sobat muslim semua maupun non muslim yang ingin mengetahui makna dan hikmah puasa ramadhan menurut islam. Ditunggu kritik dan saran yang membangun di kolom komentarnya.


Assalamualaikum !!! Semoga rahmat dan keselamatan terlimpah pada sobat pembaca semuanya. Tetap semangat walaupun ujian slalu menghadang untuk kebaikan tetap optimis dan jangan menyerah. Semangat...............!!!


Sumber : mbah google

Minggu, 13 Juli 2014

Keutamaan 10 hari pertama, kedua dan terakhir di bulan ramadhan


aa-irwan - Assalamualaikum !!! Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh,dan tidak lama lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan

Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Dari ummul mukminin, Aisyah ra menceritakan tentang kondisi Nabi Muhammad SAW,ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan : Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.


Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan ?
Paling tidak ada dua sebab utama :
Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:

“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”

“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.
Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah SWT :

إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan

Allah SWT juga berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”

Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”




Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan.Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.

“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda :

“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”

“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

“إن الله وتر يحب الوتر”

“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”

Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.
Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.
Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”
Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.
Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.


Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?
Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)
Patut kita renungkan : “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.
Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”
Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.
Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.
Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin

Terima kasih sudah membaca artikel yang saya buat, semoga bermanfaat bagi sobat blogger dan pengunjung blog aa-irwan semua. Ditunggu komentarnya utk kemajuan blog ini terima kasih.


Sumber : google.co.id

Jumat, 04 Juli 2014

Keutamaan Shalat Tarawih, Arti dan maknanya

aa-irwan - Bismillah, kali ini saya mau berbagi informasi tentang artikel "Keutamaan Shalat Tarawih, Arti dan maknanya". Semoga bermanfaat bagi sobat blogger semua.

Pengertian Shalat Tarawih
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah muakkad yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan dalam Islam. Shalat sunnah hanya ada dan dikerjakan Di waktu bulan Ramadhan. Arti tarawih berasal dari bahasa Arab yang artinya waktu sesaat untuk beristirahat.













Menurut kisah yang pernah diajarkan guru saya dulu ketika saya masih berada di bangku MI ( Madrasah Ibtidaiyah setingkat SD ), Di masa Nabi Muhammad SAW Shalat Tarawih dikerjakan hingga tengah malam. Caranya setiap selesai 2 rakaat atau satu salam para sahabat beristirahat dengan Nabi bahkan ada yang keluar beristirahat di dalam rumah. Setelah beberapa jam istirahat, dipanggilah para sahabat untuk Shalat Tarawih lagi. Begitu seterusnya hingga mencapai hitungan 8 rakaat. Valid tidaknya kisah saya sendiri tidak tahu dan tidak pernah meneliti.

Di masa Khalifah Sayyindina Umar, beliau mengerjakan sampai  20 rakaat. Berbeda dengan Di masa Nabi yang 8 rakaat. Amalan Umar Bin Khattab ini disepakati oleh para Ulama ( Ijma Ulama ).

Niat melaksanakan Shalat Tarawih
Jika anda akan melaksanakan Shalat Tarawih maka harus berniat. Niatnya sebagai berikut ( Contoh ) :
"Ushalli sunnatat taraawiihi rakataini (mamuman/imaaman) lillahi taaalaa"
Artinya : Aku niat Shalat Tarawih dua rakaat ( menjadi makmum/imam) karena Allah Taala

Keutamaan Shalat Tarawih
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa Nabi pernah ditanya tentang Keutamaan Shalat Tarawih di bulan ramadhan. Nabi menjawab dengan sabdanya sebagai berikut :
  1. Di malam pertama Orang mukmin keluar dari dosanya , seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  2. Di malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin
  3. Dan Di malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah  Arsy: Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.
  4. Di malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan Al-Quran.
  5. Di malam kelima, Allah Taala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
  6. Di malam keenam, Allah Taala memberikan pahala orang  yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
  7. Di malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Firaun dan Haman.
  8. Di malam kedelapan, Allah Taala memberinya apa yang pernah Dia berikan keDi Nabi Ibrahim as
  9. Di malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat keDi Allah Taala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
  10. Di Malam kesepuluh, Allah Taala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
  11. Di malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
  12. Di malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
  13. Di malam ketigabelas, ia datang Di hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
  14. Di malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya Di hari kiamat.
  15. Di malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
  16. Di malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
  17. Di malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
  18. Di malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha keDimu dan keDi ibu bapakmu.
  19. Di malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
  20. Di malam kedua puluh, Allah memberi pahala para  Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
  21. Di malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya gedung dari cahaya.
  22. Di malam kedua puluh dua, ia datang Di hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
  23. Di malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
  24. Di malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
  25. Di malam kedua puluh lima , Allah Taala menghapuskan darinya azab kubur.
  26. Di malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
  27. Di malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath Di hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
  28. Di malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
  29. Di malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
  30. Dan Di malam ketiga puluh, Allah ber firman : Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.
Demikianlah uraian tentang Keutamaan Shalat Tarawih. Semoga manfaat dan akan lebih semangat melaksanakannya. Semoga bermanfaat dan ditunggu komentarnya untuk kemajuan blog ini. Terima kasih.

Salam aa-irwan berbagi......................

Minggu, 29 Juni 2014

amalan - amalan di bulan ramadhan 2014



aa-irwan - Bismillah. Sudah siap untuk menyambut hadirnya Bulan Ramadhan 2014? Persiapan yang harus dilakukan untuk menyambut bulan puasa ini bukan hanya pada saat menjaga kesehatan tubuh agar bisa kuat dalam berpuasa, tapi juga memperluas rezeki dengan mengetahui 6 pintu rezeki yang bisa kamu peroleh di Bulan Suci ini.
Kunci pintu rezeki yang pertama dimulai dari pengampunan dan taubat. Jika selama ini kita banyak berbuat salah, segeral meminta ampun dan bertaubat sehingga pintu rezeki kita pun akan kembali terbuka. Taubat di sini bukan hanya mengakui kesalahan dan menyesalinya, tapi juga berniat untuk tidak mengulanginya lagi.

Kunci pintu rezeki yang kedua adalah dengan bertakwa dan memelihara diri dari berbagai macam hal yang bisa membawa kita kepada sumur dosa. Dengan begitu, Tuhan pun akan membukakan kembali pintu rezeki yang sebelumnya terkunci.

saat kita berambisi terhadap suatu hal, maka bisa jadi pintu rezeki sedang ditutup. Untuk itu, bertawakallah dan berpasrah diri terhadap semua kehendak Yang Maha Kuasa agar kita bisa membuka kembali pintu rezeki yang sedang tertutup. Serahkan semuanya kepada Allah agar kita bisa lega dalam menerima banyak hal.




Totalitas dalam beribadah merupakan pintu rezeki selanjutnya yang harus dibuka agar semua usaha yang dilakukan tidak sia-sia. Mencari nafkah dan melakukan berbagai kegiatan positif merupakan cara untuk kita bisa beribadah secara total tanpa mengharapkan sesuatu secara pamrih.

Silaturahmi merupakan usaha untuk menyambungkan tali persaudaraan sehingga dengan hal ini, pintu rezeki kita pun akan semakin terbuka dan semua usaha akan semakin dilancarkan oleh Allah.




Belanja di sini adalah mengeluarkan uang demi keperluan yang memang disarankan dan diwajibkan dalam agama, seperti halnya menyumbang sedekah untuk fakir miskin, melakukan ibadah zakat, dan memberi sebagian harta bagi orang yang kurang mampu. Membantu orang lemah (fakir miskin) juga merupakan salah satu upaya berbelanja secara islami di jalan-Nya.


Sumber : google.co.id

Kamis, 26 Juni 2014

Awal puasa 1 Ramadhan 2014

puasa ramadhan 2014

aa-irwan – Assalamualaikum sobat blogger semua smoga sahabat dalam keadaan sehat dan dalam lindungan allah swt. Kali ini aa mau berbagi informasi tentang "Awal puasa 1 Ramadhan 2014" berdasarkan hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan jatuh pada Sabtu 28 Juni 2014.

cara penentuan hilal

Berdasarkan data awal bulan Hijriyah Kalender Muhammadiyah 2014, yang merupakan hasil hisab, ijtimak atau konjungsi awal bulan Ramadan jatuh pada Jumat 27 Juni, pukul 15:10:21WIB. Adapun tinggi bulan di Yogyakarta adalah 0° 31' 17". Dengan kata lain pada saat terbenam matahari posisi hilal berada di atas ufuk sehingga tanggal 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu, 28 Juni 2014.

nu dan muhammadiyah


KABAR TERBARU:

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa bulan Ramadhan 1453 Hijriah jatuh pada 28 Juni 2014, kata Yunahar Ilyas, ketua PP Muhammadiyah bagian Tarjih, Tajdid dan Pemikiran Islam.

"Berdasarkan hasil hisab wujudul hilal yang dilakukan Majelis Tarjih dan Tajdid kami, PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1435 H dan dimulainya puasa Ramadhan jatuh pada Sabtu, 28 Juni 2014," kata Yunahar melalui siaran persnya yang diterima di Jakarta, Senin.

Yunahar mengatakan penentuan awal puasa itu didasarkan pada Maklumat PP Muhammadiyah nomor 02/MLM/I.0/E/2014, tanggal 09 Rajab 1435 H/8 Mei 2014.

Ia mengharapkan apabila terdapat perbedaan awal puasa dari pihak lain agar tidak mengganggu kesatuan umat Islam dan mengedepankan toleransi, ukhuwah serta saling menghargai atas perbedaan dalam menjalankan ibadah.

"Perbedaan itu termasuk perbedaan dalam waktu memulai dan mengakhiri ibadah puasa Ramadhan. Ukhuwah jangan dimaknai secara sempit sebagai penyatuan cara beribadah, tetapi dikembangkan ke hal-hal yang lebih luas untuk membangun tatanan kehidupan umat dan bangsa yang memberikan ruang untuk kemajemukan dan membangun peradaban yang tinggi," kata dia.

Yunahar juga mengimbau kepada segenap Muslim untuk menjalani puasa dengan keikhlasan.

"Kepada segenap Muslim agar memulai puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan dengan niat ikhlas karena Allah, mengikuti sunnah Rasulullah."

"Jadikan puasa dan ibadah Ramadhan sebagai proses transformasi spiritual ihsan yang membentuk kesalehan individual dan kesalehan sosial sehingga kehidupan di negeri ini bebas dari korupsi serta segala bentuk penyimpangan dan kerusakan," katanya. (Antara)

MULAI TARAWIH (www.muhammadiyah.or.id)

Umat Islam akan memulai puasa Ramadan pada hari itu, sementara ibadah tarawih sudah dapat dimulai pada Jum’at malam, 27 Juni 2014 setelah salat Isya.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Sekretaris Majelis Pustaka Informasi PP Muhammadiyah, Iwan Setiawan, saat diminta tanggapannya mengenai berita media massa soal penetapan awal puasa Muhammadiyah, Kamis (1/5/2014).

Iwan menjelaskan judul-judul berita di media massa yang bersumber dari ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin saat membuka Sarasehan Astrofotografi (29/4/2014), sedikit memberi penafsiran yang berbeda.

“Sesuai penjelasan Ketum PP Muhammadiyah, hilal Ramadan saat tanggal 27 Juni 2014 sudah dapat dikatakan wujud, sehingga selepas matahari terbenam tanggal 1 Ramadan 1435 H akan dimulai, karena dimulainya hari dalam kalender hijriyah adalah waktu maghrib (terbenam matahari). Dengan demikian, puasa akan dilaksanakan esok harinya, yakni pada tanggal 28 Juni 2014,” jelasnya.

Judul diberbagai media bahwa Muhammadiyah menjatuhkan 1 Ramadhan pada 27 Juni 2014 menurut Iwan Setiawan akan mempersepsikan bahwa awal puasa adalah pada tanggal tersebut, padahal tidak begitu.

“Karena yang jatuh pada tanggal 27 Juni itu peristiwa ijtimak atau konjungsi sebagai tanda berakhirnya bulan lama ke bulan yang baru, dan apabila tinggi hilal berada di atas ufuk saat terbenamnya matahari, maka itulah tanda dimulainya 1 Ramadhan dan puasa akan diawali esok hari, tanggal 28 Juni 2014,” tegasnya.

Lebih lanjut menurut Iwan setiawan, sudah menjadi kebiasaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bahwa untuk ketetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah akan dikeluarkan secara resmi malalui Maklumat.

“Jadi sebagai warga Persyarikatan, kita akan tetap menunggu ketetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah melalui Maklumat PP Muhammadiyah. Karena dalam maklumat tersebut akan dijelaskan secara detail baik perhitungan, penjelasan, dan himbauan PP Muhammadiyah,” pungkasnya.

(AWAL PUASA NU DAN MUHAMMADIYAH KEMUNGKINAN BEDA)




SIDANG ITSBAT TIDAK DISIARKAN

Kementerian Agama (Kemenag) tidak lagi menyiarkan secara langsung jalannya sidang isbat (penetapan) pada awal Ramadhan 1435 H/2014 M, termasuk pula sidang isbat awal Syawal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Siaran langsung hanya untuk hasil sidangnya saja. Jadi, proses jalannya sidang tak dapat dilakukan secara langsung lagi seperti tahun lalu, sebut siaran pers Kemenag di Jakarta, Senin.

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menginformasikan bahwa kementerian tersebut siap menggelar sidang isbat. Hanya kemungkinan proses jalannya sidang tahun ini tidak akan disiarkan langsung oleh stasiun televisi.

"Saya kira tidak perlu disiarkan langsung proses jalannya sidang. Cukup hasilnya saja yang disiarkan langsung," katanya.

Sidang isbat sebagai penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal selalu mengundang seluruh organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam. Selama sidang berlangsung, antarpengurus ormas Islam mengeluarkan argumentasi dalam forum. Kadang dalam forum tersebut terjadi perdebatan keras untuk menguatkan argumentasinya masing-masing.

Terkait dengan itu Lukman mengatakan, jalannya debat tidak perlu disiarkan langsung. "Tidak perlu disiarkan langsung. Malah lama. Kalau disiarkan langsung nanti malah ada yang merasa bisa masuk televisi, jadi nanya saja walaupun pertanyaannya tidak bermutu," ujar dia.

Ia pun meminta semua pihak untuk menghormati hasil sidang isbat nanti. Namun tidak juga dipaksakan. "Indonesia bukan negara agama seperti Arab Saudi. Jadi Pemerintah tidak bisa memaksakan kehendaknya. Berbeda itu wajar," katanya lagi.

Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengapresiasi keputusan Kementerian Agama untuk tidak lagi menyiarkan secara langsung jalannya sidang isbat (penetapan) awal Ramadhan 1435 H/2014 M, termasuk sidang isbat awal Syawal, seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Bagus kalau pemerintah tidak lagi menyiarkan langsung proses sidang isbat. Muhammadiyah sebelumnya juga sudah mengusulkannya," ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Jakarta, Senin.

Sebelumnya, Kementerian Agama mengumumkan secara resmi untuk tidak lagi menyiarkan jalannya sidang isbat secara langsung, namun cukup hasilnya saja.

Dengan adanya keputusan itu, menurut Yunahar, PP Muhammadiyah akan melakukan koordinasi internal untuk memutuskan kehadirannya dalam sidang isbat yang akan diselenggarakan pada Jumat, 27 Juni, itu.

"Sampai detik ini kami memutuskan tidak hadir. Namun, adanya perubahan memungkinkan kami (juga) berubah, tergantung hasil komunikasi antarpimpinan dalam waktu dekat ini," katanya.

Menurut dia, sidang isbat yang disiarkan secara langsung dan diketahui masyarakat di Tanah Air seperti tahun sebelumnya dinilai memberi kesan Muhammadiyah diadili dan hanya menjadi penonton saja karena bukan arena diskusi.

"Sidangnya memang harus tertutup seperti dulu. Tapi, hasilnya wajib untuk diumumkan ke publik dan kalau perlu ada siaran langsung. Muhammadiyah pasti menghormati, apapun hasilnya," kata Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan mendukung dan mengapresiasi tidak adanya siaran langsung pada sidang isbat itu.

"Proses sidang isbat memang sebaiknya dilakukan tertutup untuk umum. Baru kemudian hasilnya disampaikan secara luas. Jika ada perbedaan maka MUI mengimbau untuk menghormatinya," tukas dia.

Pemerintah selalu mengundang seluruh Ormas Islam untuk menghadiri sidang isbat dan tidak jarang sidang tersebut menjadi ajang perdebatan keras antarkelompok.

Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan 1 Ramadhan 1435H jatuh pada Sabtu, 28 Juni 2014 melalui hisab.

Ijtima (kesepakatan) untuk menetapkan 1 Ramadhan 1435H, kata dia, diputuskan pada Jumat, 27 Juni 2014 pukul 15.10 WIB. Saat matahari terbenam, hilal (bulan baru yang menjadi tanda pergantian awal hari) sudah terwujud dengan ketinggian 31 menit dan 17 detik.

Nahdlatul Ulama (NU) sesuai dengan keyakinannya akan menetapkan Ramadhan sesuai Rukyatul Hilal (melihat bulan baru) atau melihat bulan dan mengimbau kepada kaum Nahdliyin menunggu hasilnya pada 27 Juni.

"NU melakukan hisab juga Rukyatul hilal. Yang pasti, puasa umat Islam 1 Ramadhan. Kalau perbedaan pada kalender masehi itu biasa dan harus dihormati serta tak ada yang perlu dibesar-besarkan," kata Sekretaris Jenderal PBNU, Marsudi Syuhud.

PENJELASAN SINGKAT TENTANG METODE HISAB MUHAMMADIYAH

‘Hisab’ yang kerap kali oleh masyarakat dijadikan sebagai julukan atau label bagi Muhammadiyah arti harfiahnya adalah perhitungan. Metode hisab Muhammadiyah berarti rangkaian proses perhitungan yang digunakan untuk menentukan arah suatu tempat dari tempat lain, atau menentukan posisi geometris benda benda langit untuk kemudian mengetahui waktu saat di mana benda langit menempati posisi tersebut, atau mengetahui apakah suatu siklus waktu sudah mulai atau belum.

Metode hisab Muhammadiyah, sebagaimana terlihat dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah, sekurang-kurangnya meliputi 4 (empat) obyek, yaitu hisab arah kiblat, hisab waktu-waktu salat, hisab awal bulan kamariah, dan hisab gerhana matahari dan bulan.

Dalam makalah ini uraian difokuskan pada hisab awal bulan Qamariah dengan pertimbangan bahwa penggunaan hisab dalam hisab arah kiblat, waktu-waktu salat, dan gerhana tidak mengundang banyak kontroversi di masyarakat. Sedangkan penggunaan hisab untuk menentukan awal bulan kamariah hingga sekarang masih menjadi polemik antara mereka yang mengabsahkan penggunaannya dengan yang menolaknya.

Bahkan di kalangan warga Muhammadiyah sendiri masih ada yang mempertanyakan keabsahan penggunaan hisab tersebut sehubungan dengan jelasnya sabda Nabi saw tentang rukyat yang memerintahkan puasa dan lebaran setelah terlihatnya hilal dan larangan mulai puasa dan lebaran sebelum terlihatnya hilal.

Dalam perkembangannya, khususnya berkaitan dengan penentuan awal bulan Qamariah, metode hisab tidak hanya memperbincangkan tentang proses perhitungan dengan perangkat data dan rumusnya, tetapi ke dalam terminologi metode hisab ini dimasukkan pula hal-hal yang berkaitan dengan metode yang digunakan untuk menentukan penanda awal bulan Qamariah.

Hal ini mudah dipahami karena hisab dalam arti proses perhitungan semata-mata tidak akan membawa pada kesimpulan apa pun tentang sudah mulai atau belumnya bulan baru Qamariah sebelum ditentukan apa yang menandakan masuknya bulan baru Qamariah tersebut, atau dengan perkataan lain, sebelum diketahui fenomena benda langit apa dan kedudukannya seperti apa yang menandakan awal bulan Qamariah yang harus dihitung tersebut.

Penanda Awal Bulan Qamariah

Terdapat banyak pandangan mengenai penentuan penanda awal bulan Qamariah, lima di antaranya diuraikan dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah.

Pertama, ijtimak sebelum fajar; awal bulan Qamariah ditandai dengan terjadinya ijtimak (konjungsi) bulan dan matahari sebelum terbit fajar.

Kombinasi fenomena ijtimak bulan-matahari dan terbit fajar merupakan penanda awal bulan baru Qamariah bagi pandangan ini. Ijtimak bulan-matahari yang terjadi sebelum terbit fajar menunjukkan bahwa sejak saat terbit fajar tersebut bulan baru (tanggal 1bulan baru) Qamariah dimulai.

Dengan perkataan lain, awal bulan baru Qamariah dimulai sejak terbit fajar yang terjadi menyusul setelah terjadinya ijtimak bulan-matahari. Sebaliknya, terbit fajar yang terjadi menjelang terjadinya ijtimak bulan-matahari merupakan hari terakhir dari bulan Qamariah yang sedang berlangsung.

Kedua, ijtimak sebelum gurub (terbenam matahari); awal bulan Qamariah ditandai dengan terjadinya ijtimak (konjungsi) bulan dan matahari sebelum terbenam matahari. Kombinasi fenomena ijtimak bulan-matahari dan terbenam matahari merupakan penanda awal bulan baru Qamariah bagi pandangan ini.

Ijtimak bulan-matahari yang terjadi sebelum terbenam matahari menunjukkan bahwa sejak saat terbenam matahari tersebut bulan baru (tanggal 1 bulan baru) Qamariah dimulai. Dengan perkataan lain, awal bulan baru Qamariah dimulai sejak terbenam matahari yang terjadi menyusul setelah terjadinya ijtimak bulan-matahari.

Sebaliknya, terbenam matahari yang terjadi menjelang terjadinya ijtimak bulan-matahari merupakan hari terakhir dari bulan Qamariah yang sedang berlangsung.

Ketiga, bulan terbenam setelah matahari terbenam; awal bulan Qamariah ditandai dengan pertama kalinya matahari terbenam sebelum terbenam bulan, atau pertama kalinya terbenam bulan sesudah terbenam matahari.

Kombinasi fenomena terbenam matahari dan terbenam bulan merupakan penanda awal bulan baru Qamariah bagi pandangan ini. Terbenam matahari yang pertama kali terjadi sebelum terbenam bulan menunjukkan bahwa sejak saat terbenam matahari tersebut bulan baru (tanggal 1 bulan baru) kamariah dimulai. Dengan perkataan lain, awal bulan baru Qamariah dimulai sejak terbenam matahari yang terjadi sebelum terbenam bulan.

Sebaliknya, terbenam matahari yang terjadi menjelang terjadinya sesudah terbenam bulan menunjukkan awal bulan baru Qamariah belum dimulai.

Keempat, imkanur-rukyat; awal bulan Qamariah dimulai sejak terbenam matahari manakala ketinggian bulan saat itu mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga dalam keadaan normal tanpa ada gangguan bulan mungkin atau bahkan dipastikan dapat dilihat.

Ukuran ketinggian bulan yang mungkin dapat dilihat tersebut oleh pemerintah Indonesia, khususnya oleh Kementerian Agama RI ditetapkan 02°di atas ufuk (horizon). Ketinggian bulan minimum 02°dan terbenam matahari ini merupakan kombinasi fenomena alam yang menandai dimulainya awal bulan baru Qamariah.

Jika pada suatu ketika, saat terbenam matahari ketinggian bulan minimum 02°di atas ufuk, maka saat itu dimulailah tanggal 1 bulan baru Qamariah, sebaliknya apabila ketinggian bulan tidak mencapai batas minimum tersebut maka awal bulan baru Qamariah belum dimulai.

Kelima, wujudul-hilal; awal bulan baru kamariah dimulai sejak terbenam matahari yang terjadi untuk pertama kalinya setelah terjadi ijtimak bulan-matahari dan sebelum terbenam bulan.

Jadi untuk dapat ditetapkan tanggal 1 bulan baru Qamariah pada saat matahari terbenam tersebut harus terpenuhi tiga syarat secara kumulatif, yaitu sudah terjadi ijtimak bulan-matahari, ijtimak bulan-matahari terjadi sebelum terbenam matahari, dan pada saat terbenam matahari bulan belum terbenam.

Jika salah satu saja dari tiga syarat tersebut tidak terpenuhi maka awal bulan baru Qamariah tidak dapat ditetapkan.

Penanda awal bulan Qamariah sebagaimana diuraikan di atas, masih terbatas pada perspektif hisab hakiki, yaitu perhitungan terhadap fenomena benda langit secara faktual (menurut yang sesungguhnya).

Di samping itu, masih ada penanda lain yang dipedomani dalam hisab urfi atau dalam metode rukyat. Penanda awal bulan Qamariah dalam metode rukyat adalah terlihatnya hilal.

Seperti terlihat dalam uraian di atas, acuan dalam penetapan awal bulan Qkamariah adalah fenomena bulan. Meskipun persisnya fenomena bulan yang dijadikan penanda awal bulan tersebut bervariasi dan kombinasinya dengan fenomena atau variabel lain berbeda, namun tidak dapat dipungkiri bahwa acuan pokok dalam penentuan awal bulan Qamariah adalah bulan. Bahkan bukan saja menjadi acuan dalam penentuan awal bulan Qamariah tetapi juga otomatis menjadi acuan dalam kalender kamariah.

selamat puasa 2014



Itulah sebabnya bulan atau kalender dimaksud diberi label ‘Qamariah’ (berasal dari kata Arab ‘qamariyyah’ dari kata benda ‘qamar’ artinya bulan). Hal ini berbeda dengan bulan atau kalender masehi yang acuannya fenomena matahari, dan oleh karenanya dikenal dengan bulan atau kalender ‘syamsiah’ (berasal dari kata Arab ‘syamsiyyah’ dari kata benda ‘syams’ artinya matahari.

sumber : (muhammadiyah.or.id/Kabar24.com)